Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Spatial Study. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spatial Study. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

Arsitektur

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni". Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang memengaruhi arsitektur.

Pentingnya teori untuk menjadi rujukan praktik tidak boleh terlalu ditekankan, meskipun banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Vitruvius berujar: "Praktik dan teori adalah akar arsitektur. Praktik adalah perenungan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya dengan tangan, dalam proses konversi bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang berpraktik tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktik hanya berpegang kepada "bayangan" dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktik, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan". Ini semua tidak lepas dari konsep pemikiran dasar bahwa kekuatan utama pada setiap Arsitek secara ideal terletak dalam kekuatan idea.

Sumber : Wikipedia





Rabu, 23 November 2011

Tomor "The Indonesian Mesopotamia"

Tulisan ini masih merupakan rangkaian dari Asmat trip, pada kesempatan ini saya akan mengangkat salah satu karya anak bangsa yang menurut penilaian pribadi saya adalah sebuah master piece dalam kategori perencanaan kota (urban Planning). Kota Baru Tomor adalah sebuah kota satelit yang berfungsi sebagai kota industri, perdagangan serta jasa. Yang melayani wilayah utara Kabupaten Asmat serta menjadi pintu gerbang untuk Kabupaten-kabupaten hinterland diantaranya Kabupaten Nduga dan Yahukimo.

Tomor adalah salah satu desa yang terletak di Distrik Suru-Suru Kabupaten Asmat. Menurut RTRW Kabupaten Asmat 2010-2030 Tomor adalah titik pertumbuhan baru di Kabupaten Asmat. Potensi yang dimiliki oleh desa ini adalah terletak pada kawasan budi daya perkebunan serta hutan produksi. Selain itu keistimewaan fisik alami desa Tomor adalah terletak diantara dua jalur sungai yaitu sungai Lorentz dan unier. Kondisi ini mirip dengan kondisi Negara Irak yang diapit oleh dua buah sungai yaitu eufrat dan tigris. Dalam bahasa yunani daerah yang terletak di antara duah buah sungai disebut Mesopotamia.

Master Plan Kota Baru Tomor
 Daerah Mesopotamia memiliki tanah yang subur, hal ini karena kandungan zat hara yang melimpah diakibatkan proses alami seperti air sungai pasang. Hal ini juga bisa kita temui di Tomor. Desa ini termasuk salah satu daerah subur. Karena itu desa ini memiliki potensi budi daya perkebunan dan hutan produksi.

Master Plan Kota Baru Tomor
 Berdasarkan laporan akhir studi perencanaan kota tomor, luas wilayah perencanaan kota adalah 183,3 Ha, dengan batas-batas sebagai berikut :
    a.   Sebelah Utara        : Berbatasan dengan  desa Sagapu dan Tii
    b.   Sebelah Selatan     : Berbatasan dengan Desa Munu  
     c.   Sebelah Barat        : Berbatasan dengan Desa Avemu
d.   Sebelah Timur       : Berbatasan dengan Desa Suru-Suru
Tema perencanaannya sendiri adalah Tomor sebagai kota Agro Industri dan Wisata. Kemudian tema tersebut dijabarkan secara garis besar dalam 5 (lima) konsep pengembangan diantaranya yaitu Agrobisnis, pariwisata, mitigasi, pelayanan masyarakat, budaya, dan city icon.
Tujuan dari perencanaan Kota baru Tomor adalah menjadi ICON baru di bagian Utara Kabupaten Asmat, konsepsi rencana yang diarahkan diuraikan sebagai berikut:
a)  Bahwa MAIN SPASIAL dari luas lahan yang mencapai 1000 ha diperuntukan peran dan fungsinya sebagai kota baru;
b) Bahwa dalam tata peruntukan lahannya, konsep terbangun merupakan KONSEP TERPADU, dimana pencapaian dominan yang diharapkan dari konsep ini memberikan landasan pelayanan publik yang lebih efisien dan efektif, baik dilihat dari sisi koordinasi antar ruangnya maupun dari sisi fleksibilitas pola pemanfaatan kawasannya;
c)  Bahwa dalam penyusunan kerangka wilayah, pola-pola yang terbangun merupakan POLA AXIS dengan panjang 37.649.031 m. Dimana spot spasial Kota Baru Tomor menjadi fokus utama, yang dibingkai dengan kawasan-kawasan penunjang lainnya berupa Kawasan Perkantoran Publik/Private, Kawasan Bisnis, Kawasan Permukiman, Masjid dan RTH;
d)   Bahwa pengembangan ruang rencana dilakukan dengan memanfaatkan secara optimum atas keterkaitan yang kuat, dari nilai rencana pemanfaatan matra darat dan matra air;
e)   Bahwa dalam pencapaian kebutuhan ruang yang cukup, maka dilakukan proses cut and fill dari ruang eksisting yang menunjukkan keadaan topografi yang cukup beragam;
f)   Bahwa dalam perencanaan peruntukan ruangnya, nilai-nilai lingkungan tetap menjadi bagian utama yang ikut diperhitungkan untuk membingkai kawasan rencana agar tetap lebih hijau, lebih tertata, nyaman, dan asri;
g)   Bahwa dalam penyusunan kerangka pengembangan sistem jaringan pergerakannya, direncanakan menggunakan konsep multi akses, dimana pencapaian satu spot spaisal memungkinkan di tempuh dari berbagai arah, sehingga dari tata peruntukan pergerakan lalu lintasnya,  daya dukung pergerakan untuk masa 20 tahun kedepan masih memenuhi peruntukannya.
h)   Bahwa dalam kepentingan mengakomodasi kajian mitigasi yang lebih terukur, maka konsepsi rencana yang dilakukan mengikuti kajian-kajian teknis dari proses mitigasi tersebut (mitigasi Tsunami, Longsor, dan gempa bumi).
Pembangunan Kawasan Kota Baru Tomor dititikberatkan pada sektor pembangunan perkantoran government maupun perkantoran umum yang berfungsi sebagai kawasan publik. Tahapan pembangunan Kawasan Kota Baru Tomor ini biasanya dilakukan secara bertahap dan dalam kurun waktu yang panjang, misalnya lebih dari 15 tahun untuk melaksanakan pembangunannya.
Analogi master plan Kota Baru Tomor adalah jaring laba-laba. Analogi ini memberikan arti bekerja keras, sabar, disiplin, jujur serta pantang menyerah. Diharapkan penduduk kota ini nantinya mampu menjabarkan arti dari analogi desain Kota Tomor ini dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga tujuan dari desain kota baru ini bisa tercapai. Ide desain Kota Tomor dengan analogi jaring laba-laba muncul dari hasil diskusi beberapa arsitek muda yang diamanahkan oleh Pemda setempat untuk mendesain Kota Baru Tomor. Setelah melakukan beberapa diskusi, Tanya jawab dengan nara sumber serta melakukan beberapa kajian maka diputuskanlah untuk menggunakan jaring laba-laba sebagai analogi dari desain master plan Kota Tomor.
Saya kagum akan karya arsitek serta urban planner kita, yang ternyata tidak kalah dari arsitek dan urban planner asing. Bahkan hal ini menjadi salah satu indikator bahwa lulusan kawasan timur Indonesia mampu berkarya tidak hanya skala local, nasional, bahkan regional (kawasan Asia Tenggara).
Saya secara kebetulan hadir Ketika desain akhir dari kota Tomor ini di presentasikan di hadapan pemerintah daerah Kab. Asmat yang juga dihadiri oleh Ketua-ketua FAR (Forum Adat Rumpun), LSM-LSM lingkungan seperti WWF dan beberapa tokoh masyarakat. Ternyata sebagian besar peserta presentasi menganggap bahwa Master Plan Kota Baru Tomor mirip dengan Master Plan Kota Kuala Kencana. Yang membuat saya heran karena dalam proses brainstorming sampai selesainya desain Kota Baru Tomor ini, teman-teman yang terlibat sama sekali belum mengenal kota Kuala Kencana.
Ketika saya mencari literature mengenai kota Kuala Kencana, ternyata secara garis besar master plan antara kedua kota ini mirip. Yang membedakan hanya kondisi fisik alami. Kuala Kencana adalah kota yang didesain didalam hutan, sedangkan Kota Baru Tomor didesain diantara dua buah sungai yaitu sungai Lorentz dan sungai unier. Karena itu saya melihat perencanaan Kota Baru Tomor sebagai “The Indonesian Mesopotamia”.



Agats the "Calm City"

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas sedikit mengenai Kota Agats beserta kelebihannya dari kota-kota lain. Kota Agats terletak di Kabupaten Asmat Provinsi Papua dan merupakan ibukota kabupaten. Menurut draft RTRW  Kabupaten Asmat, Distrik Agats berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang arah pengembangannya meliputi :
1. Penataan Kota yang terpadu dengan kota-kota di sekitarnya;
2. Mengembangkan kerja sama antar kota;
3. Menyusun RIS Prasarana untuk keterpaduan program dalam kawasan dengan pusat-pusat permukiman
4. Didukung oleh sistem transportasi yang lancar;
5. Mengembangkan kerja sama antar kota untuk jaringan prasarana seperti air bersih, jaringan jalan, drainase;
6. Pembangunan sarana prasarana telekomunikasi yang mendukung kegiatan kota;
7. Pembangunan fasilitas pendidikan mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan atas;
8. Pembangunan fasilitas kesehatan, mulai dari tingkat RT sampai pusat pelayanan kota lokal;
9. Pembangunan Rumah Sakit dengan skala pelayanan lokal.
Kota Agats dilihat dari udara
Kondisi Jalan di Kota Agats (Jalan Jembatan)
Alun-alun serbaguna
Kota Agats berada ketinggian 0-100 mdpl dengan luas wilayah 2.963 km2. Di tinjau dari segi tata bangunan dan lingkungan, kota ini termasuk kota yang unik. Dengan kondisi fisik wilayah berada didataran rendah yang hampir tiap tahunnya tergenang oleh air pasang. Maka konsep desain fisik yang digunakan adalah konsep panggung. Konsep panggung ini diaplikasikan tidak hanya pada bangunan, tapi juga sarana pendukung seperti jalan (jalan jembatan), kantor-kantor pemerintahan, bangunan-bangunan  publik, alun2 dan lain sebagainya.
Penggunaan material yang ramah lingkungan seperti kayu dan material alam lainnya, membuat kota Agats seperti kota natural. Tentu saja penggunaan material kayu digunakan karena tuntutan seperti akses material dari ibu kota provinsi yang sulit, serta kayu masih tersedia banyak di Kabupaten Asmat mengingat total luas hutan produksi di Kabupaten Asmat 1.380.910 Ha.
Pola Kota apabila dilihat dari udara menggunakan pola grid, dengan pusat kota yaitu Kantor Bupati Kabupaten Asmat. Moda yang digunakan penduduk kota Agats di dalam melaksanakan aktivitasnya adalah motor listrik dan sepeda. selain itu sebagian besar penduduknya berjalan kaki dari rumah ke tempat aktivitasnya. Hal ini sangat jarang kita jumpai di kota-kota lainnya. Karena itu Kota Agats dapat dijadikan sampel kota ramah lingkungan.
Motor listrik
Motor listrik yang banyak digunakan sebagai moda perpindahan penduduk intra distrik di Agats adalah motor dengan sumber energi dari listrik, tidak bising, dan tidak mengeluarkan asap. Moda lain yang digunakan adalah sepeda. Karena itu Kota Agats adalah kota bebas polusi udara dan suara. 
Selain itu keramahan penduduk asli membuat Kota ini dijadikan sebagai salah satu tujuan bagi para transmigran yang ingin berusaha diluar daerahnya.
Kondisi inilah yang membuat saya merasa tenang serta nyaman ketika mendapat kesempatan berkunjung ke Kota Agats. Terlepas dari sulit dan terbatasnya moda transportasi dari kota Timika ke Asmat. inilah salah satu cerminan gambaran kota Indonesia yang sesungguhnya, yang memiliki filosofi jujur, adil, ngayomi, kerja keras dan tepa selira.